Teknologi kecerdasan artifisial sudah tersedia. Yang belum merata adalah syarat untuk memakainya. Itu benang merah forum Lintas Teknologi Solutions Day 2026 bertema AI Is Ready. Are You Part of It? di Jakarta pada 31 Oktober 2026, seperti dirangkum Media Indonesia.
Forum yang sama juga menjadi panggung ajakan "Indonesia Incorporated" dari Sekjen Komdigi Ismail (baca di sini) dan seruan Menteri Kebudayaan Fadli Zon agar AI mengenali 718 bahasa daerah (baca di sini). Artikel ini merangkum sisi lain yang dibahas: infrastruktur dan kesiapan.
Konektivitas sebagai fondasi
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menyebut pertukaran data, komputasi awan, dan aplikasi AI semuanya butuh jaringan yang andal. Karena itu, menurutnya, penguatan ekosistem AI harus diikuti:
- peningkatan kualitas dan keterjangkauan konektivitas,
- perluasan jaringan pita lebar (broadband),
- kolaborasi pemerintah dan industri,
- regulasi yang memberi ruang inovasi sekaligus memastikan AI dipakai secara bertanggung jawab.
Ia juga mengingatkan risiko ketimpangan: keterbatasan konektivitas dan mahalnya akses teknologi bisa membuat manfaat AI lebih banyak dinikmati perusahaan dan kelompok masyarakat yang sudah punya infrastruktur dan sumber daya.
Teknologi saja tidak cukup
Dari sisi industri, Presiden Direktur PT Lintas Teknologi Indonesia Muhamad Paisol menekankan peran system integrator, yaitu pihak yang menyatukan jaringan, komputasi, perangkat lunak, dan solusi sesuai kebutuhan pelanggan. Kualitas data, kesiapan SDM, dan pemilihan use case yang tepat disebut ikut menentukan berhasil tidaknya penerapan AI.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menambahkan perlunya pendekatan human-centered AI, yang menempatkan manusia sebagai pusat pengembangan dan pemanfaatan AI.
Konteks: data menunjukkan hal serupa
Temuan forum ini sejalan dengan survei independen. Studi AWS bersama Strand Partners (Agustus 2026) mencatat sekitar 40% perusahaan di Indonesia sudah mengadopsi AI, tetapi mayoritas masih tahap eksplorasi dan hanya 12% yang mengintegrasikannya secara penuh. Lebih dari separuh menyebut kekurangan talenta digital sebagai hambatan.
Untuk pembaca di luar kota besar, ini persoalan nyata. Layanan AI berbasis cloud butuh koneksi stabil, dan biaya internet masih menjadi beban. Tanpa pemerataan jaringan, target seperti mempercepat layanan publik dengan AI (baca di sini) bisa lebih cepat terwujud di Jakarta dibanding di daerah.
Catatan: acara ini diselenggarakan oleh sebuah perusahaan integrator sistem, dan sebagian isi liputannya mencerminkan sudut pandang penyelenggara.



