Anis Kurniawan, akademisi dan penulis asal Sulawesi Selatan, baru saja menjadi juri lomba penulisan novel dan cerpen tingkat siswa yang diikuti 40 peserta. Temuannya mengejutkan: ada indikasi kuat penggunaan AI pada sekitar 90 persen naskah.

Ia membagikan pengalaman itu dalam Seminar Literasi "Menjaga Jiwa dalam Aksara" di Makassar, yang diikuti 108 guru dan 370 siswa SMA, seperti diberitakan ANTARA pada 2 November 2026.

Tandanya: seragam dan kaku

Menurut Anis, naskah-naskah tersebut punya pola yang mirip: struktur seragam, kalimat normatif, dan pesan moral yang disampaikan secara kaku. "Kita akan kehilangan otentisitas, kita kehilangan kejernihan," katanya.

Perlu dicatat, angka 90 persen ini adalah pengamatan seorang juri, bukan hasil alat deteksi atau survei. Alat pendeteksi AI pun sering keliru. Namun pola yang ia gambarkan akrab bagi banyak guru.

Masalahnya bukan cuma menyontek

Anis menyoroti dua dampak:

  • Di pendidikan, kemudahan AI membuat siswa bergantung pada jawaban instan, sehingga kebiasaan membaca, berdiskusi kritis, dan berpikir mandiri melemah.
  • Di jurnalistik, AI mendorong produksi konten massal demi kecepatan dan monetisasi.

Ia juga mengingatkan bahwa algoritma platform cenderung mengunci pembaca dalam selera yang sama, sehingga peran guru, editor, dan komunitas literasi makin penting untuk memperkenalkan bacaan yang lebih menantang.

Saran praktis

Anis menawarkan empat langkah bagi generasi muda: tetap membaca buku cetak, membiasakan menulis secara organik, memakai AI sebatas alat bantu, dan menjaga ruang dialog serta diskusi kritis. "Gunakan AI sebagai alat bantu, bukan pengganti kreasi," ujarnya.

Beberapa tambahan dari redaksi ayoai.id untuk guru dan orang tua:

  1. Nilai prosesnya, bukan hanya hasil akhir. Minta draf kasar, catatan, atau kerangka tulisan. Proses berpikir lebih sulit dipalsukan daripada hasil akhir.
  2. Buat aturan yang jelas. Tentukan kapan AI boleh dipakai (misalnya mencari ide atau memeriksa ejaan) dan kapan tidak (menulis isi karya). Siswa perlu tahu batasnya.
  3. Minta siswa menceritakan karyanya. Tanya jawab singkat soal pilihan tokoh atau alur akan cepat menunjukkan siapa yang benar-benar menulis.
  4. Ajarkan cara memakai AI dengan jujur, misalnya mencantumkan bagian mana yang dibantu AI.
  5. Jangan hanya mengandalkan detektor AI. Hasilnya bisa salah dan merugikan siswa yang jujur.

Kekhawatiran ini terkait langsung dengan masa depan kerja: kemampuan berpikir kritis dan menulis dengan suara sendiri justru makin berharga ketika pekerjaan level pemula mulai digantikan AI (baca di sini).

Sumber