Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) Ismail kembali mengangkat kekhawatiran yang sama: Indonesia berisiko hanya menjadi pasar bagi industri AI global. Kali ini ia menjelaskan mengapa Indonesia begitu menarik bagi pemain asing, dan bagaimana pembagian perannya.
Ismail berbicara dalam acara Coffee Morning pada Selasa, 3 November 2026, seperti diberitakan CNBC Indonesia. Beberapa hari sebelumnya, ia mengajak operator telekomunikasi bersatu lewat strategi "Indonesia Incorporated" (baca di sini).
Kenapa "pasar empuk"
- Pola lama. "Kejadian yang begini bukan pertama kali. Ini kondisi yang berkali-kali berulang di banyak sektor," kata Ismail. Setiap kali ada tren teknologi, menurutnya, "Indonesia ini market yang sangat empuk."
- Budaya FOMO. Ia menyebut masyarakat Indonesia sangat fear of missing out, sehingga adopsi AI cepat. "Semua anak muda kita ya senang aja pakai AI di semua sektor. Itu memang culture kita."
- Skala besar. Ismail menyebut sekitar 230 juta pengguna internet. "Negara sebesar ini... tapi kok kita nggak bisa do something," ujarnya. (Sebagai catatan, Menkomdigi Meutya Hafid pekan lalu menyebut angka sekitar 260 juta. Perbedaan ini kemungkinan karena sumber data atau tahun yang berbeda.)
Pembagian peran
Ismail menegaskan pemerintah tidak bisa bekerja sendiri:
- Pemerintah: memperkuat kebijakan dan regulasi untuk melindungi hak Indonesia atas data. "Ini memang tugas pemerintah, jelas itu, nggak bisa diwakilin."
- Bersama swasta: lapisan kompetensi seperti komputasi awan dan aplikasi. "Ini nggak bisa government, harus do bersama-sama."
Yang perlu dicermati
Gagasannya masuk akal, tetapi masih umum. Beberapa pertanyaan yang belum terjawab:
- Apa bentuk aturan soal data? Indonesia sudah punya UU Pelindungan Data Pribadi. Belum jelas apakah akan ada aturan baru soal data untuk pelatihan AI.
- Bagaimana mendorong produk lokal tanpa proteksionisme berlebihan? Pengguna Indonesia memakai ChatGPT dan Gemini karena kualitasnya. Produk lokal perlu bersaing dari sisi kualitas, bahasa, dan harga.
- Peran BUMN. Telkom dan Danantara sudah bergerak di pusat data dan listrik (baca soal MoU PLN-Telkom), sementara Wamenkomdigi Nezar Patria menyebut Indonesia tidak perlu membangun model tercanggih (baca di sini). Gambaran besarnya: Indonesia mengincar lapisan infrastruktur dan aplikasi, bukan model inti.
Sumber
- CNBC Indonesia: Indonesia Jadi Pasar Empuk Industri AI, Kok Bisa?



