Banyak perusahaan di Indonesia sudah mencoba AI, tapi berhenti di tahap uji coba. Alasannya beragam: server mahal, tim teknis terbatas, atau bingung memilih model. Huawei Cloud menawarkan jalan pintas lewat layanan baru bernama Model-as-a-Service (MaaS).
Apa yang diluncurkan
Menurut Bisnis360, Huawei Cloud meluncurkan MaaS di Indonesia dalam acara Huawei Cloud AI Boost Day bertema "Agentic AI Practice" di Jakarta. Lewat layanan ini, perusahaan bisa langsung memakai model AI yang sudah di-hosting Huawei, cukup dengan "akses satu klik", tanpa harus menyiapkan server sendiri.
Untuk awal, Huawei menyediakan enam model open source dari tiga keluarga model asal China: GLM, DeepSeek, dan Qwen. Model-model ini disetel untuk dua kebutuhan utama, yaitu tanya-jawab cerdas (misalnya asisten layanan pelanggan) dan bantuan menulis kode. Huawei juga menyebut dukungan untuk GLM-5, yang diklaim unggul untuk tugas coding dan agen AI.
Apa itu Model-as-a-Service
Analoginya mirip berlangganan listrik. Kita tidak perlu membangun pembangkit sendiri, cukup colok dan bayar sesuai pemakaian. CEO Huawei Cloud Indonesia Leon Fang memakai perumpamaan serupa: tujuannya menjadikan AI "semudah dan seandal layanan listrik".
MaaS mengurus seluruh siklus model, mulai dari pemasangan, menjalankan model, fine-tuning (melatih ulang dengan data sendiri), hingga evaluasi. Pembayarannya berbasis pemakaian, dan kapasitas komputasinya bisa naik-turun sesuai kebutuhan.
Leon Fang juga menyebut AI kini bergeser dari sekadar alat bantu menjadi "pekerja digital" yang bisa menjalankan tugas kompleks di dalam perusahaan.
Kenapa penting untuk Indonesia
Pilihan infrastruktur AI untuk bisnis di Indonesia makin ramai. Sebelumnya, Indosat dan F5 meluncurkan Intelligence Suite yang membuka akses ke ratusan model AI. Kehadiran Huawei menambah opsi, khususnya bagi perusahaan yang tertarik memakai model China seperti DeepSeek dan Qwen yang dikenal hemat biaya.
Bagi UMKM digital dan startup, skema bayar sesuai pemakaian bisa menurunkan modal awal untuk mencoba AI. Huawei juga menyebut jaringan cloud-nya di Asia Pasifik mencakup lima region dan 18 availability zone dengan latensi hingga 50 milidetik.
Yang perlu dicermati
Sebelum memilih, perusahaan sebaiknya bertanya: di mana data disimpan dan diproses, bagaimana kepatuhannya terhadap UU Pelindungan Data Pribadi, dan seberapa mudah pindah ke penyedia lain jika perlu. Perlu dicatat juga, aturan ekspor teknologi AI di China sedang berubah. Pemerintah China baru saja mengusulkan kontrol ekspor untuk 23 teknologi AI, meski layanan lewat API dan cloud umumnya dikecualikan.
Sumber
- Bisnis360, "Huawei Cloud Luncurkan Layanan MaaS di Indonesia untuk Percepat Adopsi AI di Dunia Usaha": https://www.bisnis360media.com/huawei-cloud-luncurkan-layanan-maas-di-indonesia-untuk-percepat-adopsi-ai-di-dunia-usaha-BMESlKWYI8



