Model AI asal China seperti DeepSeek dan Qwen makin sering dipakai di Indonesia karena murah dan terbuka. Kini Beijing mengusulkan aturan baru yang membatasi ekspor sejumlah teknologi AI. Apakah ini akan memengaruhi kita?

Apa yang diusulkan

Menurut TNGlobal, Kementerian Perdagangan dan Kementerian Sains dan Teknologi China pada 16 Oktober 2026 mengumumkan usulan revisi daftar teknologi yang dilarang atau dibatasi ekspornya. Totalnya 40 teknologi di bidang AI, biomedis, dan tenaga surya, dengan 23 di antaranya teknologi AI. Dari 40 itu, 14 diusulkan dilarang diekspor dan 26 dibatasi. Masukan publik dibuka hingga 15 November.

Teknologi apa saja

Cakupannya meliputi model AI besar, agen AI, klaster komputasi, dan teknologi pemrosesan informasi. Yang diusulkan dilarang antara lain sistem yang bisa membuat atau mengubah kode berbahaya secara mandiri, serta teknologi inti model besar yang dilatih dengan data nasional sensitif. Yang diusulkan dibatasi termasuk AI untuk menemukan celah keamanan dan teknologi terkait model, agen, dan infrastruktur komputasi canggih.

Mengutip Associated Press, TNGlobal menyebut draf ini juga mencakup sebagian teknologi desain chip, dan model dengan sedikitnya dua triliun parameter bisa masuk kategori dibatasi. Usulan ini tidak menyebut nama model komersial tertentu.

Meski aturannya masih draf, sejak 16 Oktober eksportir sudah wajib mendaftarkan transfer teknologi yang tercakup sebelum dilakukan.

Bagaimana dengan pengguna di Indonesia

Ini bagian terpentingnya. Kementerian Perdagangan China menegaskan teknologi yang sudah terbuka lewat rilis open source atau publikasi akademik tidak termasuk. Pemakaian dari luar negeri lewat API, situs web, aplikasi, dan layanan berlangganan (SaaS) umumnya juga tidak dihitung sebagai ekspor teknologi, selama tidak ada teknologi terbatas yang dipindahkan.

Artinya, bagi pengguna biasa, developer, dan bisnis di Indonesia yang memakai DeepSeek atau Qwen lewat aplikasi atau API, kemungkinan besar tidak ada perubahan dalam waktu dekat. Layanan cloud seperti Model-as-a-Service Huawei Cloud yang baru hadir di Indonesia juga termasuk jenis pemakaian berbasis layanan.

Yang lebih perlu waspada adalah perusahaan yang berencana membeli lisensi teknologi AI China, menjalankan model terbatas di server sendiri, atau bermitra riset yang melibatkan transfer teknologi.

Yang perlu dicermati

China menyebut aturan ini bertujuan mencegah penyalahgunaan, melindungi keamanan nasional, dan menjaga kemampuan AI sensitif tetap di bawah kendali manusia, serta tidak menyasar negara tertentu. Daftar finalnya masih bisa berubah setelah masa konsultasi. Satu hal patut dicatat: AI makin diperlakukan seperti teknologi strategis, sehingga negara seperti Indonesia perlu memperkuat kemampuan sendiri agar tidak terlalu bergantung pada satu sumber.

Sumber

  • TNGlobal, "China proposes export controls on 23 AI technologies": https://technode.global/2026/10/18/china-ai-export-controls-23-technologies/