Akhir pekan lalu, kami memberitakan klaim PM Malaysia Anwar Ibrahim soal investor global yang menyiapkan US$50 miliar untuk AI di Malaysia, tanpa nama investornya. Kini namanya muncul: SoftBank Group.

Yang baru

Menurut CNBC yang mengutip Bloomberg, Anwar menyebut pendiri dan CEO SoftBank Masayoshi Son telah memilih Kuching (Sarawak) dan Semenanjung Malaysia sebagai lokasi investasi, setelah keduanya berbicara lewat konferensi video. Fokusnya tetap sama: AI, teknologi baru, dan data center. Situs teknologi Malaysia Lowyat.net juga melaporkan Anwar mengonfirmasi SoftBank sebagai investornya.

Ada konteks yang membuat kabar ini masuk akal. Pada 8 Oktober, SoftBank, Grab, dan Petroleum Sarawak (PETROS) menandatangani perjanjian kerangka untuk menjajaki platform AI dan infrastruktur digital di Sarawak. PETROS membawa pasokan energi, Grab membawa ekosistem digital, dan SoftBank membawa keahlian komputasi dan semikonduktor.

Yang masih belum jelas

  • SoftBank belum berkomentar. Menurut CNBC, SoftBank tidak langsung menanggapi permintaan konfirmasi. Sumber nama investor masih pernyataan pemerintah Malaysia.
  • Belum ada jadwal, porsi per lokasi, maupun bentuk investasinya.

Malaysia sudah jauh di depan

Malaysia menargetkan menjadi "negara AI" pada 2030. Menurut data MIDA yang dikutip CNBC, investasi terkait data center di Malaysia mencapai RM385,7 miliar (sekitar US$94 miliar) sejak 2021 hingga semester I 2026. Google, AWS, dan Microsoft juga sudah mengumumkan investasi cloud dan data center di sana.

Bagaimana dengan Indonesia

Di hari yang sama, Danantara memaparkan rencana data center berkapasitas 1 gigawatt, AI nasional, sovereign cloud, dan pengembangan chip bersama Arm, dengan target investasi proyek strategis US$20-30 miliar dalam dua sampai tiga tahun, menurut ANTARA. Telkom, lewat NeutraDC, juga menyebut aspirasi kapasitas data center AI hingga 1 GW.

Perbandingannya cukup mencolok. Satu komitmen SoftBank di Malaysia saja, jika terwujud, sudah lebih besar dari target investasi seluruh portofolio strategis Danantara, yang juga mencakup energi, pangan, dan pertahanan. Bedanya, Indonesia mengandalkan dana dan BUMN sendiri, sementara Malaysia menarik modal asing.

Indonesia juga masih menyiapkan aturan dasar. Rancangan Perpres soal kabel laut dan data center masih dalam konsultasi publik, termasuk soal listrik, air, dan izin, seperti kami ulas dalam syarat data center AI: listrik, air, dan izin. Kepastian aturan inilah yang sering jadi pertimbangan investor saat memilih antara Johor, Sarawak, atau Batam.

Apa artinya bagi Anda

Persaingan menarik investasi data center di Asia Tenggara makin ketat. Yang perlu dipantau: apakah komitmen raksasa seperti ini berujung pada proyek nyata, dan apakah Indonesia bisa menawarkan kepastian listrik, lahan, dan izin. Banyak data center juga belum otomatis berarti kedaulatan AI, seperti kami bahas dalam data center menjamur belum berarti kedaulatan AI.

Sumber