Istilah "kedaulatan AI" makin sering terdengar. Banyak yang mengira cukup dengan membangun banyak pusat data (data center) di dalam negeri. Pemerintah sendiri kini mengingatkan bahwa itu belum cukup.
Apa yang disampaikan
Menurut CNBC Indonesia, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menilai pertumbuhan kapasitas data center di Indonesia belum otomatis memperkuat kedaulatan AI. Indonesia, katanya, perlu menguasai fondasi teknologinya, mulai dari infrastruktur komputasi hingga industri semikonduktor.
"Kita harus mengamankan sejumlah choke point dari rantai pasok global untuk memperkuat industri AI," ujar Nezar. Choke point adalah titik-titik penting dalam rantai pasok yang, bila dikuasai, memberi posisi tawar.
Ia juga menyebut komputasi sebagai "listriknya ekonomi digital". Kemampuan komputasi itu ditopang energi yang andal, konektivitas, pusat data, komputasi awan, dan industri semikonduktor.
Posisi Indonesia saat ini
Menurut CNBC Indonesia, kapasitas pusat data Indonesia diperkirakan sekitar 580 megawatt dan ditargetkan naik menjadi 1,3 gigawatt pada 2027–2028. Angka itu masih tertinggal dari Malaysia, yang disebut memiliki kapasitas sekitar 3 gigawatt.
Nezar menilai pembangunan pusat data perlu ditata dan diberi safeguard agar tumbuh berkelanjutan. Tantangan keberlanjutan ini juga terlihat di kawasan, seperti yang kami bahas dalam ledakan AI Asia Tenggara yang menguji keberlanjutan pusat data.
Dari tambang ke cip
Nezar juga menyinggung kekayaan mineral Indonesia: nikel, bauksit, timah, emas, dan sejumlah logam tanah jarang yang dicari dunia untuk industri semikonduktor. Menurutnya, potensi itu perlu diolah menjadi komponen bernilai tambah, agar Indonesia tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah.
Jadi, kedaulatan AI itu apa?
Dari penjelasan Nezar, kedaulatan AI bisa dipahami sebagai ekosistem, bukan satu jenis bangunan. Isinya mencakup:
- Infrastruktur fisik: energi, jaringan, pusat data, dan kapasitas komputasi.
- Data: siapa yang mengelola dan di mana disimpan.
- Keamanan siber dan tata kelola.
- Riset dan inovasi: kemampuan membuat teknologi sendiri, bukan hanya memakai.
- Industri hulu: termasuk semikonduktor.
Pandangan ini melengkapi paparan Menko Airlangga yang menyebut potensi kontribusi AI ke ekonomi RI hingga US$400 miliar pada 2030, serta upaya pemerintah menyelaraskan energi dan pusat data AI.
Kenapa penting bagi Anda
Pusat data yang dibangun di Indonesia belum tentu dimiliki atau dikendalikan pihak dalam negeri. Ketika Anda membaca berita investasi data center bernilai besar, pertanyaan yang layak diajukan adalah: siapa yang menguasai teknologinya, dan apakah talenta lokal ikut belajar membangunnya?
Pemerintah menargetkan visi Indonesia Digital 2045 lewat kolaborasi pemerintah, industri, kampus, dan lembaga riset. Seberapa cepat target kapasitas 1,3 GW tercapai bisa menjadi salah satu tolok ukur yang mudah Anda pantau.



