Asia Tenggara termasuk kawasan yang paling cepat merangkul AI. Namun laporan terbaru menunjukkan satu masalah besar: hampir tidak ada yang mau membayar.
Adopsi melesat
Menurut laporan e-Conomy SEA 2026 dari Google, Temasek, dan Bain & Company, seperti diberitakan CNBC, Asia Tenggara kini memiliki 243 juta pengguna AI. Angka itu tercapai dalam waktu kurang dari tiga tahun dan setara dengan 58% populasi usia kerja di kawasan.
Laporan itu juga menyebut adopsi AI berjalan empat kali lebih cepat dibanding adopsi internet seluler dulu. Kami sebelumnya membahas posisi Indonesia dalam laporan yang sama. Kali ini fokusnya pada soal uang.
Tapi monetisasinya tertinggal
Hanya sekitar 1–2% pengguna yang membayar langganan AI. Pemakaian per orang pun disebut baru sekitar 10% dibanding pengguna di Amerika Serikat.
Menurut laporan itu, persoalannya bukan sekadar harga. Banyak pengguna belum melihat nilai yang cukup jelas untuk membayar.
Harapan baru: agen yang berbelanja untuk Anda
Laporan tersebut menyoroti agentic commerce, yaitu agen AI yang membantu, bahkan mewakili, Anda berbelanja. Beberapa temuannya:
- 75% pengguna AI bersedia membiarkan agen AI berbelanja atas nama mereka.
- 62% mengaku lebih memercayai rekomendasi AI.
- 69% memakai AI untuk membandingkan pembelian yang rumit.
- Pada pelaku usaha, AI dikaitkan dengan kenaikan konversi sekitar 10% dan nilai pesanan hingga 75%.
Contohnya Shopee. Menurut laporan itu, sekitar 80% pertanyaan pelanggan di Shopee kini ditangani chatbot, dan biaya layanan per kontak turun sekitar 30%.
Gambaran ekonomi digital kawasan
Laporan yang sama mencatat nilai transaksi bruto (GMV) ekonomi digital Asia Tenggara mencapai US$368 miliar, naik 17%, dan diproyeksikan menembus US$1 triliun pada 2035. Beberapa sektor yang disorot:
- Perjalanan daring: US$59 miliar (+10%)
- Media daring: US$44 miliar (+22%)
- Transportasi daring dan pesan-antar makanan: US$40 miliar (+15%)
Angka-angka ini adalah estimasi laporan industri. Metodologinya bisa berbeda dengan data resmi pemerintah.
Kenapa penting bagi Anda
Sebagai pengguna, Anda kemungkinan masih akan menikmati banyak layanan AI gratis. Namun perusahaan perlu mencari cara lain untuk mendapat untung, misalnya iklan, komisi belanja, atau fitur premium yang dibundel dengan aplikasi lain.
Bagi pelaku usaha di Indonesia, angka 75% yang bersedia berbelanja lewat agen AI patut diperhatikan. Pastikan informasi produk Anda lengkap dan mudah dibaca mesin, karena ke depan yang "membaca" katalog Anda bisa jadi bukan manusia, melainkan agen AI.



