Bayangkan Anda cukup berkata, "Carikan popok termurah dan langsung beli," lalu agen AI mengerjakan sisanya. Menurut laporan terbaru, makin banyak konsumen Asia Tenggara yang siap melakukan itu.

Kepercayaan pada AI naik

Laporan e-Conomy SEA 2026 dari Google, Temasek, dan Bain, seperti dirangkum ASEAN Coverage, mencatat:

  • 62% responden lebih percaya AI dibanding setahun sebelumnya.
  • 62% menilai jawaban AI lebih akurat dan berkualitas.
  • 56% menilai rekam jejak AI dalam menjalankan tugas dan mengambil keputusan sudah dapat diterima.

Gambaran umum posisi Indonesia dalam laporan yang sama sudah kami bahas di e-Conomy SEA 2026: posisi Indonesia dalam adopsi AI. Kali ini kami fokus pada satu hal: belanja lewat agen AI.

Siap mendelegasikan belanja

Menurut laporan tersebut, 75% responden bersedia menyerahkan perbandingan harga sekaligus pembelian kepada agen AI, dan 59% bersedia menyerahkan penjadwalan janji temu.

Pola belanjanya berbeda per kategori. Di antara pembeli produk anak, 70% sudah memakai AI untuk mencari dan membeli barang, sementara untuk produk mewah dan bermerek angkanya 35%. Laporan juga mencatat personalisasi berbasis AI menaikkan keterlibatan di media daring sebesar 10-20%.

Laporan menyebut empat prioritas agar tren ini berkelanjutan: adopsi agen yang bertanggung jawab, infrastruktur, kebijakan energi, dan kerangka perdagangan digital ASEAN.

Tips sebelum Anda menyerahkan belanja ke agen AI

  • Mulai dari tugas berisiko rendah, misalnya membandingkan harga, sebelum memberi izin membayar.
  • Tetapkan batas: anggaran maksimum dan minta konfirmasi sebelum transaksi.
  • Jangan bagikan PIN, OTP, atau kata sandi ke agen yang bukan layanan resmi. Kasus perbankan di AS menunjukkan risikonya, seperti kami ulas dalam agen AI yang mengakses rekening nasabah.
  • Cek ulang hasilnya: harga termurah belum tentu dari penjual tepercaya.

Sumber