Setiap layanan AI yang Anda pakai berjalan di pusat data, gedung berisi ribuan server yang butuh listrik dan air dalam jumlah besar. Indonesia ingin membangun lebih banyak pusat data untuk AI, dan pemerintah kini mengakui satu hal penting: tanpa listrik yang cukup, rencana itu tidak akan jalan.
Listrik dan pusat data direncanakan bersama
Menurut ANTARA, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid di Bali Tech Week 2026, Selasa, 20 Oktober 2026, menyatakan pembangunan pusat data dan AI Factory tidak boleh lagi direncanakan terpisah per sektor. AI Factory adalah infrastruktur komputasi berkapasitas besar untuk mengembangkan dan menjalankan layanan AI.
Komdigi akan berkoordinasi erat dengan Kementerian Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi. Menko Bahlil Lahadalia menyebut kebutuhan tambahan listrik untuk pusat data diperkirakan mencapai 20 gigawatt (20.000 megawatt). "Saya akan minta data lokasi dari teman-teman yang akan membangun data center, supaya supply energinya itu bisa langsung disediakan," ujarnya.
Sebagai gambaran, kapasitas pusat data yang beroperasi di Indonesia saat ini sekitar 468 MW, dengan hampir 2.000 MW dalam pengembangan, menurut data Cushman & Wakefield yang kami bahas dalam artikel ledakan pusat data di Asia Tenggara.
Investasi harus menguntungkan warga sekitar
Bahlil juga akan menyiapkan regulasi agar investasi pusat data "win-win": investor asing dipersilakan masuk, tetapi diminta bermitra dengan pengusaha nasional dan daerah. Ia mencatat pusat data butuh modal dan teknologi besar, tetapi menyerap sedikit tenaga kerja langsung, sementara memakai banyak listrik dan air. Karena itu, pemerintah ingin warga di sekitar lokasi ikut merasakan manfaatnya.
Pusat data sampai Indonesia timur
Di hari yang sama, Direktur Jenderal Infrastruktur Digital Kemkomdigi Wayan Toni Supriyanto menyampaikan bahwa pemerintah mendorong pusat data swasta dibangun hingga Indonesia bagian timur, karena investasi selama ini terpusat di wilayah barat. Sulawesi dan Kupang disebut sebagai contoh kawasan yang bisa dipertimbangkan.
Caranya antara lain:
- Perencanaan lokasi sesuai kebutuhan pemerintah, industri, pendidikan, dan layanan publik.
- Kepastian pasokan energi, termasuk gardu induk dan air untuk pendinginan.
- Konektivitas cadangan ke pusat jaringan nasional dan internasional, agar pusat data di luar Jawa dan Batam tidak terisolasi.
- Perizinan yang lebih sederhana dan mitigasi risiko bencana.
Rancangan Peraturan Presiden tentang kabel bawah laut dan pusat data juga sudah disiapkan dan sedang memasuki tahap konsultasi publik. Wayan menekankan perlunya koordinasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, PLN, operator jaringan, instansi pertanahan, dan investor.
Kenapa penting bagi Anda
Pusat data yang lebih dekat berarti layanan digital lebih cepat dan andal bagi warga di Indonesia timur, serta peluang ekonomi baru di daerah. Namun, pelajaran dari luar negeri menunjukkan risikonya. Di Inggris, Microsoft mundur dari proyek pusat data AI karena jaringan listrik baru siap tahun 2030-an. Langkah merencanakan listrik sejak awal adalah upaya agar hal serupa tidak terjadi di sini.
Yang perlu dicermati
Angka 20 GW adalah perkiraan kebutuhan tambahan, bukan target yang sudah punya jadwal. Pertanyaan berikutnya: dari mana listrik sebesar itu akan datang, apakah dari energi bersih atau batu bara, dan bagaimana air untuk pendinginan disediakan tanpa mengganggu kebutuhan warga. Semua ini sejalan dengan sikap Menkomdigi bahwa Indonesia menentukan sendiri kecepatan pengembangan AI-nya.
Sumber
- ANTARA, "Pemerintah selaraskan perencanaan energi dan infrastruktur AI": https://www.antaranews.com/berita/5798685/pemerintah-selaraskan-perencanaan-energi-dan-infrastruktur-ai
- ANTARA, "Kemkomdigi upayakan pembangunan pusat data AI hingga ke timur": https://www.antaranews.com/berita/5800293/kemkomdigi-upayakan-pembangunan-pusat-data-ai-hingga-ke-timur



