Setiap kali Anda bertanya ke chatbot AI, ada server di sebuah gedung besar yang bekerja keras, makan listrik, dan butuh pendingin. Gedung-gedung inilah yang disebut pusat data, dan jumlahnya melonjak di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Angka-angkanya
Menurut The Star (dari Straits Times/ANN), yang mengutip Pritesh Swamy dari Cushman & Wakefield, kapasitas pusat data di tiga pasar utama kawasan pada 2026 adalah:
- Malaysia: 1.318 MW beroperasi, 5.438 MW dalam pengembangan.
- Singapura: sekitar 1.068 MW beroperasi, 232 MW dalam pengembangan, ditambah 200 MW dari putaran alokasi kedua.
- Indonesia: 468 MW beroperasi, hampir 2.000 MW dalam pengembangan.
MW (megawatt) di sini adalah ukuran daya listrik yang bisa dipakai pusat data. Artinya, kapasitas Indonesia yang sedang dibangun lebih dari empat kali lipat yang sudah berjalan.
Masalah panas dan air
Server AI menghasilkan panas besar, jadi butuh pendingin yang boros energi. Srini Rao dari Novagate Cloud menjelaskan sistem terbaru memakai pendingin cair dalam sirkuit tertutup, sehingga pemakaian air bisa ditekan hampir nol di iklim sejuk.
Masalahnya, Indonesia beriklim tropis. Udara luar yang panas membuat pendinginan lebih sulit, sehingga menurut Rao, negara tropis sulit mencapai pemakaian air mendekati nol, walau penghematan besar tetap mungkin. Mengurangi air juga bisa berarti menambah listrik, jadi jejak lingkungannya belum tentu turun.
Peluang Batam, Bintan, Karimun
Keterbatasan lahan dan listrik di Singapura membuat operator melirik Johor, Malaysia, yang kini tumbuh jadi pasar sendiri. Kawasan SIJORI (Singapura, Johor, Kepulauan Riau) pun makin dilirik, dan operator mulai menimbang Batam, Bintan, dan Karimun sebagai lokasi pusat data. Swamy menyebut Jakarta sudah tumbuh menjadi pasar mandiri, sementara Kepulauan Riau masih di tahap awal.
Tantangan Indonesia
Swamy menyebut ekspansi Indonesia terkendala ketersediaan listrik dan distribusi jaringan, serta kekurangan tenaga ahli untuk membangun dan mengoperasikan pusat data. Pakar keamanan juga mengingatkan bahwa peretas bisa menyerang sistem pendukung seperti generator dan pendingin, bukan hanya datanya. Jika pendingin mati, seluruh pusat data bisa berhenti.
Kenapa penting bagi Anda
Pusat data di dalam negeri berarti layanan digital lebih cepat dan data warga bisa disimpan di Indonesia. Layanan seperti Model-as-a-Service Huawei Cloud atau model lokal seperti milik GoTo butuh infrastruktur ini. Namun, jika listriknya diambil dari pembangkit batu bara, ledakan AI juga bisa menambah emisi. Pertanyaan pentingnya: siapkah jaringan listrik, sumber energi bersih, dan tenaga kerja Indonesia mengejar investasi ini?
Sumber
- The Star (Straits Times/ANN), "Southeast Asia's AI boom puts data centre sustainability to the test": https://www.thestar.com.my/aseanplus/aseanplus-news/2026/10/18/southeast-asias-ai-boom-puts-data-centre-sustainability-to-the-test



