Google for Education menetapkan kelompok pertama Gemini Reference University di Indonesia: Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Brawijaya (UB), dan Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM). Gelar ini, menurut Google, diberikan kepada kampus yang memakai Gemini dan Gemini Notebook secara menyeluruh dan bertanggung jawab dalam pembelajaran, riset, dan operasional.

Cara tiap kampus memakai AI

UGM: administrasi dan kajian pustaka. Google mengklaim dosen dan staf UGM menghemat rata-rata 10 sampai 12 jam per minggu, dan kajian jurnal yang dulu makan waktu berbulan-bulan kini bisa selesai dalam hitungan hari dengan Gemini Notebook. Lebih dari 30.000 sivitas akademika disebut aktif memakai layanan AI Google. Aksesnya terhubung ke portal SIMASTER, dengan panduan verifikasi fakta, transparansi, dan perlindungan dokumen sensitif.

UB: konsep abstrak jadi eksperimen. Dosen Teknik Elektro sekaligus IT Director UB, Raden Arief Setyawan, memakai Gemini Canvas untuk membuat simulasi pembelajaran cukup dengan perintah bahasa sehari-hari. Di kelas AI, mahasiswa bisa melihat langsung bagaimana jaringan saraf berubah ketika parameternya digeser.

UNIKOM: literasi dan etika AI. UNIKOM membuka AI Learning Center bersama Google pada Maret 2026, dengan pelatihan bertingkat dari literasi dan etika hingga membangun solusi, terbuka juga untuk siswa dan masyarakat. Dosen memakai Gemini Notebook untuk menyiapkan bahan ajar, dan mahasiswa membuat Bin Compost, alat pemantau suhu dan kelembapan kompos.

Membaca angkanya dengan kritis

Semua angka di atas berasal dari blog Google sendiri, belum dari evaluasi independen. Penghematan waktu seperti "10 sampai 12 jam per minggu" biasanya berbasis survei pengguna, bukan pengukuran langsung. Program ini juga berfungsi sebagai etalase produk Google di pasar pendidikan.

Kenapa ini penting untuk kampus lain

Kampus di Indonesia sedang mencari pola pemakaian AI yang aman. Ada beberapa pelajaran yang bisa ditiru, apa pun vendornya:

  • Pasang AI di dalam sistem kampus, seperti SIMASTER, agar akses dan aturan seragam.
  • Sertakan panduan verifikasi fakta, karena AI bisa berhalusinasi.
  • Lindungi dokumen sensitif seperti data mahasiswa dan naskah riset yang belum terbit.

Ini sejalan dengan imbauan Kemkomdigi agar pelajar tetap berpikir kritis saat memakai AI, dan kampus swasta juga bergerak lewat inisiatif seperti APTISI bersama sejumlah penyedia AI.

Sumber