Tugas sekolah bisa selesai dalam hitungan detik dengan chatbot. Tapi apa yang tersisa di kepala setelahnya? Itulah yang diingatkan Kemkomdigi kepada para siswa.

AI tidak menggantikan otak

Menurut ANTARA, Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kemkomdigi Fifi Aleyda Yahya berbicara di OJK Digiclass untuk siswa Sekolah Rakyat di Jakarta, Selasa (27/10). Pesannya: AI hanyalah alat. Ia tidak menggantikan otak, hati nurani, maupun naluri manusia.

Fifi meminta siswa tidak menyalin jawaban AI begitu saja. Sebaliknya, siswa diajak terus bertanya "mengapa", lalu mengecek ulang jawaban ke guru, dosen, dan bacaan ilmiah.

Soal PP Tunas

Fifi juga menyinggung PP Tunas, aturan pemerintah untuk melindungi anak di media sosial. Menurutnya, aturan ini menuntut tanggung jawab platform seperti Meta dan Google, bukan menghukum anak atau orang tua.

Kenapa ini penting

Chatbot AI bisa terdengar sangat yakin padahal keliru. Kami pernah melaporkan Meta AI yang keliru soal karhutla hingga Menkomdigi mendesak transparansi algoritma. Kebiasaan mengecek ulang adalah pertahanan paling dasar.

Apa artinya bagi Anda

Untuk siswa dan orang tua, beberapa kebiasaan sederhana:

  1. Pakai AI untuk memahami, bukan menyalin. Minta penjelasan langkah demi langkah, lalu tulis ulang dengan kata-kata sendiri.
  2. Tanya balik "kenapa?" Jika AI tidak bisa menjelaskan alasannya, jangan langsung percaya.
  3. Cek sumbernya. Bandingkan dengan buku pelajaran, guru, atau sumber resmi.
  4. Jujur soal penggunaan. Ikuti aturan sekolah tentang boleh tidaknya AI dipakai untuk tugas.

Panduan lain ada di rubrik Belajar AI.

Sumber