Filipina dan Indonesia punya banyak kemiripan: negara kepulauan, ekonomi digital yang tumbuh cepat, dan kekurangan talenta digital. Karena itu, kabar soal adopsi AI di Filipina bisa jadi cermin untuk Anda yang menjalankan bisnis di Indonesia.
Angka adopsi AI di Filipina
Menurut The Manila Times, studi Strand Partners yang dibiayai Amazon Web Services (AWS), "Unlocking the Philippines' AI Potential 2026", menemukan 32 persen bisnis di Filipina kini memakai AI, naik dari 21 persen setahun sebelumnya.
Hasilnya cukup menjanjikan. Di antara bisnis pengguna AI, 74 persen melaporkan produktivitas naik dan 68 persen melaporkan pendapatan naik, rata-rata 20 persen.
Tapi kebanyakan masih di tahap awal: 57 persen bisnis masih menjajaki atau bereksperimen, dan hanya 17 persen punya peta jalan resmi untuk memperluas pemakaian AI. Hambatan terbesarnya adalah kurangnya keterampilan digital (47 persen) dan masalah teknis atau data (39 persen). Hanya 12 persen yang punya kerangka AI bertanggung jawab yang lengkap.
Aturan data pemerintah
Di sisi kebijakan, Presiden Ferdinand Marcos Jr. menandatangani Executive Order 119 pada Juli 2026. Aturan ini mengatur klasifikasi data pemerintah berdasarkan risiko: data paling sensitif wajib disimpan di dalam negeri, sementara data yang kurang sensitif boleh di cloud yang memenuhi standar keamanan. Aturan ini berlaku untuk data pemerintah, bukan data bisnis swasta secara umum, tetapi perusahaan yang melayani instansi pemerintah perlu memperhatikannya. Rincian teknisnya masih menunggu aturan pelaksana.
Bagaimana dengan Indonesia
Indonesia sudah lebih dulu punya aturan serupa. PP Nomor 71 Tahun 2019 membagi sistem elektronik ke lingkup publik dan privat, dengan kewajiban pengelolaan data lingkup publik di dalam negeri, kecuali teknologinya tidak tersedia. Ditambah UU Pelindungan Data Pribadi, bisnis di Indonesia sudah terbiasa menimbang di mana data disimpan saat memilih layanan cloud atau AI.
Soal angka adopsi, studi ini tidak memuat data Indonesia, dan studi yang berbeda memakai metode berbeda, jadi angkanya tidak bisa dibandingkan langsung. Namun tantangannya terasa mirip: banyak perusahaan sudah mencoba AI, tapi belum banyak yang punya rencana jelas, tim terampil, dan aturan internal untuk memakainya secara luas. Kapasitas pusat data juga sedang tumbuh di Indonesia, seperti terlihat dari ledakan pusat data di Asia Tenggara.
Pelajaran untuk bisnis Anda
Country Manager AWS Filipina Precious Lim memberi saran yang berlaku juga di sini: mulai dari masalah yang ingin dipecahkan, bukan dari teknologinya. Tentukan dulu apakah Anda ingin menghemat waktu, menaikkan penjualan, atau menekan biaya. Lalu benahi data, latih karyawan bekerja bersama AI, dan tetapkan keputusan mana yang tetap harus diambil manusia.
Sumber
- The Manila Times, "AI adoption rises amid PH data rules": https://www.manilatimes.net/2026/10/18/business/sunday-business-it/ai-adoption-rises-amid-ph-data-rules/2447914



