Asia Tenggara makin dilirik perusahaan AI global. Kali ini giliran Anthropic, pengembang Claude, yang resmi membuka kantor di Singapura sekaligus meneken kerja sama keamanan AI dengan pemerintah setempat.

Apa yang terjadi

Menurut laporan Computer Weekly, kantor di kawasan Raffles Place itu menjadi kantor kelima Anthropic di Asia-Pasifik, setelah Tokyo, Bengaluru, Seoul, dan Sydney. Pembukaan dilakukan sehari setelah perusahaan menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Pemerintah Singapura.

Isi MoU mencakup pertukaran teknis dengan lembaga keamanan dan penjaminan AI Singapura soal cara mengevaluasi dan menguji model, serta penanganan insiden. Kesepakatan itu juga menyinggung riset dampak AI terhadap pekerjaan dan bantuan adopsi AI untuk usaha kecil. Kerja sama ini melanjutkan proyek red-teaming sejak 2023 dalam bahasa Inggris, Mandarin, Melayu, dan Tamil.

Kantor baru ini akan diisi tim penjualan, teknis, layanan pelanggan, kemitraan, dan kebijakan publik. Anthropic menyatakan belum berencana membuka kantor lain di Asia Tenggara dan akan mengandalkan mitra untuk menjangkau negara lain.

Anthropic juga mengumumkan Claude Sonnet 5 kini bisa dijalankan dengan inferensi di dalam wilayah Singapura lewat Amazon Bedrock. Artinya, prompt dan jawaban tidak keluar dari negara tersebut, hal yang penting bagi sektor keuangan, kesehatan, dan pemerintahan.

Kenapa penting untuk Indonesia

Beberapa pengguna Claude yang disebut dalam laporan juga dekat dengan pasar Indonesia. Grab, misalnya, memakai Claude untuk asisten penjualan BriX. Grab juga punya agen yang bisa menjalankan kampanye iklan atas nama merchant, dan menurut chief product officer Grab, sekitar separuh merchant kecil dan menengahnya kini memakai agen itu.

Isu residensi data juga relevan. Banyak lembaga di Indonesia, terutama di sektor keuangan dan publik, punya aturan ketat soal di mana data boleh diproses. Langkah Anthropic di Singapura menunjukkan arah yang mungkin ditempuh penyedia AI jika permintaan serupa muncul dari Indonesia, meski belum ada pengumuman untuk Indonesia.

Konteks

Singapura memang rajin menjadi tuan rumah kerja sama keamanan AI. Pekan yang sama, pemerintahnya meminta perusahaan AI besar membagikan detail insiden secepatnya, dan OpenAI menyatakan mendukung seruan itu.

Dalam acara yang sama, salah satu pendiri Anthropic, Benjamin Mann, mengakui keluhan developer soal batas pemakaian dan filter keamanan yang kadang menghalangi pekerjaan sah. Ia menyebut perusahaan sedang berusaha mengurangi penolakan yang keliru tanpa melemahkan perlindungan.

Bagi Indonesia, yang sedang menyiapkan aturan sektoral AI, model kerja sama antara regulator dan pengembang seperti di Singapura bisa menjadi bahan pembanding.

Sumber