Siapa yang paling banyak memakai AI di Asia Tenggara? Bukan perusahaan, melainkan orang per orang: pekerja lepas, kreator konten, pelajar, dan pebisnis solo. Itulah salah satu temuan laporan e-Conomy SEA edisi ke-11 dari Google, Temasek, dan Bain & Company yang dirilis 21 Oktober 2026.

Pertama kali diukur lewat token

Menurut Computer Weekly, laporan tahun ini untuk pertama kalinya mengukur pemakaian AI dalam satuan token, yaitu potongan teks yang diproses model AI. Di enam negara yang diteliti (Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam), sekitar 60 persen token dipakai untuk keperluan konsumen. Sisanya berasal dari AI yang dibeli atau dijalankan organisasi.

Sekitar 70 persen pemakaian konsumen dipakai untuk menulis, menyunting, riset, analisis, coding, dan pekerjaan administrasi. Nitin Gajria, Managing Director Google untuk Asia Tenggara, menyebut bisa saja sebagian berasal dari karyawan yang memakai akun AI pribadi untuk pekerjaan, tetapi laporan tidak merinci berapa porsinya.

Posisi Indonesia

Porsi pemakaian perusahaan dari total token:

| Negara | Porsi enterprise |
| --- | --- |
| Singapura | 55–60% |
| Malaysia | 45–50% |
| Thailand | 35–40% |
| Indonesia, Filipina, Vietnam | 15–20% |

Menurut BusinessWorld, yang mengutip laporan yang sama, persentase penduduk usia kerja yang memakai platform AI generatif mandiri adalah:

| Negara | Pengguna AI generatif | Penetrasi internet |
| --- | --- | --- |
| Singapura | 70% | di atas 90% |
| Malaysia | 68% | di atas 90% |
| Vietnam | 65% | 87% |
| Thailand | 63% | di atas 90% |
| Indonesia | 54% | 81% |
| Filipina | 53% | 70% |

Rata-rata kawasan 58 persen. Artinya, Indonesia hanya sedikit di atas Filipina, yang disebut paling tertinggal, dan masih di bawah rata-rata Asia Tenggara. Pemakaian per kapita di enam negara itu secara keseluruhan baru sekitar 10 persen dari Amerika Serikat.

Kenapa Filipina dan Indonesia tertinggal

Pengamat di Filipina yang dikutip BusinessWorld menyebut celah infrastruktur digital, keterjangkauan, akses, dan literasi digital sebagai penyebab. Fitur AI yang lebih canggih umumnya berbayar, dan sebagian orang masih mengaitkan AI dengan kecurangan, hoaks, deepfake, atau ancaman kehilangan pekerjaan. Faktor serupa relevan untuk Indonesia, yang penetrasi internetnya 81 persen. Sebelumnya, kami juga membahas adopsi AI bisnis di Filipina yang naik 32 persen.

Ruang tumbuh masih besar

Laporan ini memperkirakan pemakaian AI di kawasan bisa tumbuh 10 sampai 15 kali lipat pada 2030 dalam skenario dasar, dan hingga 60 kali lipat bila agen AI dipakai luas, terutama di perusahaan. Kapasitas pusat data yang terbangun di kawasan disebut tumbuh sekitar 52 persen per tahun sejak 2023 menjadi 5,8 GW. Soal itu, lihat juga artikel ledakan pusat data di Asia Tenggara.

Laporan juga menyebut perlunya lapisan know your agent sebelum keputusan keuangan diserahkan ke agen AI, sejalan dengan permintaan Komdigi agar perusahaan menerapkan know your agent.

Kenapa penting bagi Anda

Bagi pekerja dan pelajar, angka ini menunjukkan AI sudah jadi alat sehari-hari. Bagi perusahaan Indonesia, porsi enterprise yang baru 15–20 persen berarti masih banyak yang belum memasukkan AI ke proses inti bisnisnya. Jarak dengan Malaysia dan Singapura bisa melebar bila hal ini tidak dikejar, terutama lewat pelatihan karyawan.

Yang perlu dicermati

Angka berbasis token dan perkiraan pertumbuhan berasal dari model dan estimasi penyusun laporan (Google, Temasek, dan Bain), bukan sensus resmi. Kami mengutipnya dari pemberitaan Computer Weekly dan BusinessWorld.

Sumber

  • Computer Weekly, "Southeast Asian enterprises trail consumers in AI usage": https://www.computerweekly.com/news/366652403/Southeast-Asian-enterprises-trail-consumers-in-AI-usage
  • BusinessWorld, "PHL lags region in generative AI adoption — study": https://bworldonline.com/economy/2026/10/21/788504/phl-lags-region-in-generative-ai-adoption-study/