Di Google for Health Summit di Singapura, Google mengumumkan kemitraan dengan Kementerian Kesehatan Singapura untuk memasang AI di sistem kesehatan negara itu, plus pusat riset baru.
Isi pengumumannya
Menurut blog Google:
- Google Research hub di Singapura, berisi ilmuwan riset dan insinyur lokal, fokus pada model AI dasar untuk mempercepat temuan ilmiah. Hub ini akan bermitra dengan NUS dan NTU.
- MedGemma ke layanan garis depan. Google akan membawa model terbuka MedGemma ke fasilitas kesehatan, sehingga solusi bisa dibuat dengan data tetap di dalam negeri.
- US$7 juta dari Google.org dan Google DeepMind untuk koalisi Health for Human Potential milik Philanthropy Asia Alliance. Termasuk US$1 juta untuk PathGen, platform AI untuk membantu negara mendeteksi ancaman penyakit lebih cepat dan berbagi data kesehatan masyarakat.
- AI co-clinician: Google DeepMind bersama National University Health System menguji alat yang merangkum pedoman medis dan literatur untuk membantu dokter.
- Pelatih kesehatan AI: Google Cloud dan NHG Health memakai prediksi risiko penyakit kronis untuk memberi pengingat gaya hidup dan pencegahan lewat NHG HealthBot.
Kenapa relevan untuk Indonesia
Ada tiga hal yang layak dicatat:
- Kedaulatan data kesehatan. Model terbuka seperti MedGemma memungkinkan rumah sakit menjalankan AI tanpa mengirim data pasien ke luar negeri. Ini relevan dengan UU PDP dan aturan rekam medis elektronik di Indonesia.
- Deteksi wabah lintas negara. PathGen dirancang untuk kawasan. Indonesia, dengan risiko penyakit tropis dan populasi besar, termasuk pihak yang paling berkepentingan dengan sistem semacam ini.
- Persaingan hub riset. Singapura terus menjadi tujuan pusat riset AI global. Indonesia sedang mencoba jalur sendiri, misalnya lewat sandbox inovasi kesehatan AI Garuda Spark dari Komdigi.
Catatan kami: pengumuman ini berasal dari blog Google sendiri. Google tidak menyebut jumlah peneliti di hub baru maupun jadwal penerapan di rumah sakit.



