Persaingan menarik investasi pusat data dan AI di Asia Tenggara makin ketat. Setelah Malaysia dan Singapura, Thailand kini memasang target besar untuk infrastruktur digitalnya.

Angka proyeksinya

Menurut Bangkok Post, Kantor Dewan Nasional Ekonomi Digital dan Masyarakat Thailand (BDE), di bawah Kementerian Ekonomi Digital dan Masyarakat (DES), memproyeksikan investasi infrastruktur digital pemerintah dan swasta naik dari sekitar 335 miliar baht pada 2026 menjadi sekitar 641 miliar baht pada 2030. Sekretaris Jenderal BDE Wetang Phuangsup menyebut pertumbuhan tahunan rata-ratanya 17,6 persen.

Rinciannya untuk 2026 dan 2030:

| Bidang | 2026 | 2030 |
| --- | --- | --- |
| Pusat data dan cloud | 189 miliar baht | 391 miliar baht |
| AI | 56 miliar baht | 141 miliar baht |
| Telekomunikasi | 87 miliar baht | 100 miliar baht |

Investasi AI tumbuh paling cepat, lebih dari dua kali lipat dalam empat tahun. Angka total juga mencakup teknologi antariksa, yang tidak dirinci terpisah. Pada 2026, sekitar 95,7 persen investasi (sekitar 320,6 miliar baht) diperkirakan datang dari investor swasta lokal dan asing, sementara sektor publik hanya 4,3 persen (sekitar 14,4 miliar baht).

Strategi tiga arah

Wakil Menteri DES Nan Boonthida Somchai menyebut ambisi Thailand adalah menjadi pemimpin regional di bidang teknologi digital dan AI pada 2030. BDE memaparkan tiga prioritas: infrastruktur digital yang siap masa depan, ekosistem digital dan AI yang mencakup teknologi, data, talenta, dan bisnis lokal, serta kemitraan jangka panjang antara pemerintah, swasta, investor, dan kampus.

"Thailand tidak boleh sekadar mengikuti laju perubahan teknologi. Kita harus memanfaatkan teknologi sebagai penggerak utama ekonomi yang lebih kuat," kata Nan. Ia juga menekankan pertimbangan lingkungan dan manfaat jangka panjang harus tetap jadi pusat perhatian.

Kenapa penting untuk Indonesia

Thailand, Malaysia, dan Indonesia sedang berebut investasi yang sama. Indonesia saat ini punya sekitar 468 MW kapasitas pusat data yang beroperasi, jauh di bawah Malaysia, seperti dibahas dalam artikel ledakan pusat data di Asia Tenggara. Pemerintah Indonesia juga baru saja menyelaraskan perencanaan energi dengan pusat data AI, dengan perkiraan kebutuhan listrik tambahan 20 GW.

Satu hal yang patut dicatat: hampir seluruh investasi Thailand diharapkan datang dari swasta. Di saat yang sama, Kamar Dagang Thailand mengingatkan agar negaranya tidak hanya bergantung pada teknologi asing dan membangun model AI sendiri. Keseimbangan antara menarik investor besar dan membangun kemampuan lokal juga menjadi pekerjaan rumah Indonesia.

Yang perlu dicermati

Ini adalah proyeksi pemerintah, bukan investasi yang sudah pasti. Wetang sendiri menyebut tantangan utamanya adalah mewujudkan investasi itu menjadi infrastruktur nyata yang meningkatkan daya saing.

Sumber

  • Bangkok Post, "Data centres and AI to fuel digital investment boom": https://www.bangkokpost.com/business/general/3339988/data-centres-and-ai-to-fuel-digital-investment-boom