Kabar baik untuk founder yang membangun produk dengan AI: pintu pendanaan belum tertutup. Kabar kurang enaknya, pintu itu kini dijaga lebih ketat.

Apa yang terjadi

Ketua Asosiasi Modal Ventura untuk Startup Indonesia (Amvesindo) Eddi Danusaputro mengatakan kepada Kontan, Kamis, 15 Oktober 2026, bahwa anggota asosiasinya sangat terbuka berinvestasi pada bisnis yang memanfaatkan AI, misalnya untuk pengembangan produk dan skalabilitas.

Namun minat itu muncul di tengah tech winter, istilah untuk masa paceklik pendanaan teknologi. Investor menjadi lebih hati-hati memilih perusahaan rintisan. Akibatnya, founder dituntut lebih tekun mencari investor yang mandat investasinya cocok dengan karakter dan kebutuhan bisnis mereka.

Selain AI, Amvesindo melihat minat investor pada climatetech, ekonomi sirkular, dan energi terbarukan. Fintech, logistik, dan healthtech juga masih diminati.

Angka di balik layar

Data OJK yang dikutip Kontan menunjukkan pembiayaan modal ventura tercatat Rp16,50 triliun per Agustus 2026, naik 1,05% dibanding tahun sebelumnya. Kenaikan setipis itu menegaskan industri belum kembali ke laju pertumbuhan lamanya.

Dalam wawancara terpisah dengan Kontan pada September 2026, Eddi menjelaskan bahwa investor kini menerapkan uji tuntas yang lebih ketat. Mereka tidak lagi mengejar pertumbuhan semata atau valuasi tinggi, melainkan fokus pada perusahaan dengan unit economics positif, tata kelola yang sehat, dan arus kas yang nyata. Amvesindo tetap optimistis kuartal IV bisa menjadi momentum realisasi kesepakatan yang sudah melewati uji tuntas.

Kenapa penting untuk Indonesia

Banyak startup Indonesia kini menempelkan label AI di pitch deck. Pernyataan Amvesindo memberi sinyal bahwa label saja tidak cukup. Yang dicari adalah AI yang benar-benar membantu produk tumbuh dan bisa menghasilkan uang.

Bagi founder, ada beberapa pelajaran praktis:

  • Pilih investor yang mandatnya sesuai, bukan sekadar yang paling besar.
  • Tunjukkan bagaimana AI memperbaiki unit economics, misalnya menekan biaya layanan atau mempercepat operasional.
  • Siapkan tata kelola dan arus kas yang rapi, karena uji tuntas kini lebih detail.

Amvesindo juga rutin berkomunikasi dengan investor luar negeri dan menggelar konferensi serta program delegasi untuk menghubungkan startup lokal dengan pasar global. Bagi startup AI yang ingin menjangkau pasar regional, jalur ini patut dimanfaatkan.

Pandangan serupa sudah disampaikan Amvesindo sejak awal tahun. Pada Maret 2026, Kepala Bidang Regulasi dan Logistech Amvesindo Even Alex Chandra mengatakan kepada Kontan bahwa modal cenderung diarahkan ke sektor yang relatif defensif dengan kebutuhan jangka panjang, seperti agritech, B2B SaaS, dan AI. Ia juga menyarankan startup memperpanjang runway lewat pengendalian biaya.

Yang perlu dicermati

Keterbukaan terhadap AI masih berupa pernyataan sikap. Indikator yang lebih nyata adalah berapa banyak kesepakatan pendanaan startup AI lokal yang benar-benar terealisasi hingga akhir 2026.

Sumber

  • Kontan, "Modal Ventura Lirik Peluang Investasi pada Startup Berbasis AI": https://keuangan.kontan.co.id/news/modal-ventura-lirik-peluang-investasi-pada-startup-berbasis-ai
  • Kontan, "Investor Semakin Selektif dalam Menyalurkan Pembiayaan Modal Ventura": https://keuangan.kontan.co.id/news/investor-semakin-selektif-dalam-menyalurkan-pembiayaan-modal-ventura
  • Kontan, "Amvesindo Sebut Industri Modal Ventura Kian Selektif dan Fokus ke Sektor Defensif": https://keuangan.kontan.co.id/news/amvesindo-sebut-industri-modal-ventura-kian-selektif-dan-fokus-ke-sektor-defensif