Perdebatan "AI berdaulat" sering terdengar seolah Indonesia harus membuat semuanya sendiri, dari chip sampai model. Di forum Danantara pekan ini, Google menawarkan jalan tengah.

"Managed interdependence"

Menurut IDX Channel, Director of AI and Research Partnerships Google APAC, Harsh Dhand, berbicara di Danantara Technology and Innovation Forum (DTIIF) 2026 di Fairmont Jakarta. Kuncinya, kata dia, adalah managed interdependence: Indonesia bekerja sama dengan sejumlah model global sekaligus mengembangkan model terbuka sesuai kebutuhan sendiri, tanpa harus membangun seluruh komponen secara mandiri.

Harsh menyebut AI perlu diarahkan ke kebutuhan nyata: pertanian, kesehatan, pendidikan, dan perubahan iklim. Kemampuan memahami bahasa dan dialek lokal serta biaya yang makin murah disebutnya krusial agar manfaatnya terasa luas.

Catatan kami: Google adalah penyedia model global, jadi wajar jika sarannya menguntungkan pendekatan kerja sama dengan model seperti miliknya.

Suara lain di forum

  • Rossen Apostolov (Sweden AI Factory): infrastruktur saja tidak cukup; perlu keahlian, pendampingan pengguna, dan kolaborasi riset. Ia menyarankan Indonesia menetapkan sektor prioritas dan membangun jaringan ahli domestik.
  • Sendang Praptomo (CEO NeutraDC Singapore): kebutuhan listrik AI sangat besar, sehingga pasokan energi, air, pengelolaan panas, dan dampak sosial pusat data harus dipetakan sejak awal.
  • Donald Tirtaatmadja (AWS): memproses AI di dalam negeri bisa mempercepat layanan dan membantu memenuhi aturan pengelolaan data lokal.

Jawaban Danantara soal energi dan air

Managing Director Investment Danantara Investment Management, Stefanus Ade Hadiwidjaja, menyebut infrastruktur digital dan AI sebagai prioritas investasi. Untuk pusat data besar, Danantara menerapkan prinsip BYOE (Bring Your Own Energy) agar tidak mengganggu pasokan listrik industri dan masyarakat, serta teknologi pendingin closed loop agar pengambilan air minim.

Ini melengkapi laporan kami sebelumnya: Danantara siapkan 40 lebih proyek, dari chip AI hingga data center 1 GW, dan Telkom dorong platform AI nasional bersama Danantara.

Apa artinya

Arah kebijakan AI nasional tampaknya bukan "semua lokal" atau "semua impor", melainkan campuran. Pertanyaan pentingnya: bagian mana yang wajib dikuasai sendiri (data, bahasa lokal, sektor strategis), dan bagian mana yang cukup disewa.

Sumber