Kecerdasan artifisial tidak hanya dipakai untuk menganalisis saham. Ia juga dipakai untuk menipu investor. Bursa Efek Indonesia (BEI) mengingatkan masyarakat agar mewaspadai modus penipuan investasi yang kini memanfaatkan AI, mulai dari video deepfake hingga "influencer" yang sebenarnya tidak pernah ada.

Peringatan ini disampaikan pihak BEI dalam rangkaian kegiatan edukasi pasar modal di Batam, seperti diberitakan Bisnis.com dan dikutip ulang sejumlah media. Pesannya sederhana: tampilan yang profesional atau wajah tokoh terkenal bukan jaminan bahwa informasinya benar.

Modus yang perlu dikenali

Menurut BEI, beberapa pola yang mulai muncul antara lain:

  • Video dan suara deepfake tokoh publik. Wajah dan suara pejabat, pengusaha, atau selebritas ditiru dengan AI, lalu dibuat seolah-olah merekomendasikan saham atau produk investasi tertentu.
  • Influencer sintetis. Akun media sosial dengan "orang" buatan AI yang tampak meyakinkan, rajin membagikan "tips cuan", lalu menggiring pengikut ke grup tertutup.
  • Dokumen investasi palsu. Prospektus, sertifikat, atau laporan kinerja yang dibuat dengan AI sehingga terlihat resmi.
  • Materi promosi buatan AI. Poster, testimoni, dan tangkapan layar keuntungan yang mudah sekali dipalsukan.

Masalahnya, semua materi itu kini bisa dibuat dalam hitungan menit dan dengan kualitas yang sulit dibedakan dari aslinya.

Cara melindungi diri

Rangkuman saran BEI dan OJK yang bisa langsung dipraktikkan:

  1. Cek legalitas lewat sumber resmi. Pastikan perusahaan dan produknya terdaftar di OJK, dan untuk saham, cek langsung di situs idx.co.id. Jangan hanya percaya tautan yang dibagikan di grup.
  2. Curigai janji untung tinggi tanpa risiko. Di pasar modal, imbal hasil tinggi selalu berjalan bersama risiko tinggi. Janji "pasti untung" adalah tanda bahaya.
  3. Waspadai desakan. Jika Anda didesak segera mentransfer dana atau menyerahkan data pribadi, berhenti dulu.
  4. Bandingkan beberapa sumber kredibel. Jika tokoh terkenal benar-benar merekomendasikan sesuatu, biasanya ada pemberitaan resmi. Satu video viral saja tidak cukup.
  5. Jadikan AI alat belajar, bukan penasihat. BEI menekankan AI bisa membantu memahami istilah atau konsep, tetapi hasilnya bisa tidak akurat. Keputusan investasi tetap tanggung jawab Anda.
  6. Amankan akun. Gunakan kata sandi yang kuat dan unik serta aktifkan autentikasi dua faktor (2FA). Jangan pernah membagikan PIN, OTP, atau detail rekening kepada siapa pun.

OJK sebelumnya menyampaikan pesan serupa. Dalam pemberitaan CNBC Indonesia pada Oktober 2026, pejabat OJK Edi Broto Suwarno mengingatkan prinsip "legal dan logis": periksa dulu sebelum percaya, pahami produknya, dan verifikasi setiap transaksi. Ia juga mengingatkan bahaya FOMO (fear of missing out), yaitu rasa takut ketinggalan yang sering dimanfaatkan penipu.

Kenapa ini penting sekarang

Jumlah investor ritel Indonesia terus bertambah, dan banyak di antaranya investor muda yang belajar dari media sosial. Kombinasi ini membuat deepfake sangat berbahaya: penipu tidak perlu meretas sistem apa pun, cukup meyakinkan satu orang untuk mentransfer dana.

Tema World Investor Week 2026 yang disebut BEI juga mencerminkan hal ini, yaitu ketahanan investor, penipuan digital, dan investasi ilegal. Ini sejalan dengan temuan bahwa kesiapan tata kelola AI di Indonesia masih tertinggal dari tingkat keyakinan penggunanya (baca: survei Sumsub soal tata kelola AI).

Catatan redaksi: artikel asli Bisnis.com tidak dapat kami akses langsung, sehingga kutipan BEI dalam artikel ini kami rangkum dari pemberitaan ulang InvestaNews dan Patrolmedia. Nama dan jabatan narasumber dapat berbeda sedikit antarmedia.

Sumber