Malaysia punya banyak pusat data, tetapi pelaku usaha kecilnya tetap membayar komputasi AI dengan harga penuh. Untuk mengatasinya, Malaysia Digital Economy Corporation (MDEC) akan meluncurkan National AI Compute Exchange (NACX) pada kuartal I 2027.

Rencana ini diumumkan Ketua MDEC Ganesh Kumar Bangah di MDX Forum 2026 di Petaling Jaya pada 28 September, dan diberitakan Digital News Asia serta sejumlah media teknologi Malaysia.

Cara kerjanya

NACX akan berdiri di antara penyedia komputasi AI dan para pembelinya, yaitu kementerian, perusahaan, UMKM, dan pengembang independen.

  • Permintaan dihimpun. Alih-alih setiap UMKM bernegosiasi sendiri, NACX bernegosiasi sebagai satu pembeli besar.
  • Satu pintu ke banyak penyedia. Pengguna bisa mengakses beberapa penyedia lewat satu kanal.
  • Pusat data menyumbang kapasitas. Menurut Ganesh, pusat data di Malaysia bisa menyumbangkan kapasitas komputasi ke bursa ini, lalu dibagikan ke UMKM, startup, dan perusahaan berstatus Malaysia Digital dengan harga diskon.

Ganesh mencontohkan tagihannya sendiri: sekitar US$100 per bulan untuk Claude dan US$30 untuk ChatGPT, atau sekitar RM500. "Banyak orang di luar sana tidak mampu membayar ini," katanya, seperti dikutip AI Hub Malaysia.

Didukung anggaran

Anggaran Malaysia 2027 yang diajukan 9 Oktober 2026 juga mengalokasikan RM30 juta lewat MDEC untuk membantu 4.000 UMKM mengadopsi AI dan melatih 5.000 profesional AI.

Yang belum jelas

MDEC belum menjawab pertanyaan soal harga, nama penyedia, dan apakah keikutsertaan pusat data bersifat sukarela atau menjadi syarat insentif. Lembaga itu menyebut NACX masih dalam pengerjaan.

Pelajaran untuk Indonesia

Indonesia menghadapi masalah serupa. Kapasitas pusat data nasional diproyeksikan melonjak hingga 11 GW pada 2030 (baca di sini), tetapi itu tidak otomatis membuat AI terjangkau bagi UMKM. Banyak kapasitas pusat data dibangun untuk melayani perusahaan global.

Gagasan "beli bersama" ala NACX juga mirip semangat Indonesia Incorporated yang baru diusulkan Kemkomdigi, yaitu menggabungkan daya tawar nasional saat berhadapan dengan pemain AI global (baca di sini). Bedanya, Malaysia menargetkan manfaatnya langsung ke UMKM dan startup.

Malaysia juga sedang menyusun RUU tata kelola AI (baca perbandingannya). Dalam beberapa bulan ke depan, negeri jiran ini akan menjadi pembanding yang menarik untuk melihat apakah intervensi pasar seperti ini benar-benar menurunkan harga.

Sumber