Pusat data AI di Bumi butuh lahan, listrik, dan air pendingin dalam jumlah besar. Bagaimana jika sebagian dipindah ke luar angkasa? Google baru saja mengambil langkah kecil ke arah itu.
Menurut JawaPos, yang mengutip The News, Google berhasil menjalankan model AI terbuka Gemma 4 di chip TPU (Tensor Processing Unit) yang terpasang di satelit prototipe Project Suncatcher, lalu menerima jawabannya dari orbit.
Apa yang diuji
- Tim mengirim perintah lewat stasiun bumi agar model menulis puisi haiku tentang luar angkasa.
- Jawaban dikirim kembali saat satelit melintas di atas Svalbard, Norwegia. Google menyebutnya respons AI pertama yang dihasilkan TPU kelas pusat data di orbit.
- Model juga diuji menulis puisi limerick dan menyusun laporan telemetri tentang kondisi teknis satelit.
- Langkah berikutnya: menguji ketahanan perangkat terhadap suhu ekstrem dan radiasi, sebelum menargetkan dua satelit yang saling terhubung pada 2027.
Project Suncatcher adalah inisiatif riset Google untuk menguji jaringan satelit bertenaga surya sebagai pusat data. Di orbit tertentu, panel surya bisa mendapat sinar matahari lebih konsisten, dan panas bisa dibuang lewat radiasi ke ruang hampa.
Prediksi Musk
CEO SpaceX Elon Musk menanggapi lewat X. Menurutnya, kapasitas komputasi orbital yang dipasang tiap bulan bisa melampaui kapasitas di Bumi menjelang akhir 2028, lalu jauh melampauinya pada 2029. SpaceX sendiri mengembangkan inisiatif komputasi orbital bernama Starmind yang terhubung dengan jaringan Starlink.
Prediksi ini perlu dibaca hati-hati:
- Musk punya kepentingan bisnis langsung, karena SpaceX menjual peluncuran dan konektivitas satelit.
- Ia menyampaikannya saat menanggapi model proyeksi seorang investor, bukan data operasional.
- Uji coba Google baru satu satelit prototipe yang menjalankan tugas ringan. Itu masih sangat jauh dari pusat data berskala gigawatt.
Tantangannya
Bahkan JawaPos mencatat keunggulan orbit belum otomatis membuat pusat data di sana lebih murah atau mudah dioperasikan. Beberapa tantangan yang umum disebut: biaya peluncuran, radiasi yang merusak chip, perawatan perangkat yang tidak bisa diakses langsung, kapasitas pengiriman data ke Bumi, dan sampah antariksa.
Relevansi untuk Indonesia
Untuk saat ini, pusat data orbital belum menjadi pilihan nyata bagi Indonesia. Pekerjaan rumah utamanya masih di darat: listrik andal dan bersih untuk pusat data yang diproyeksi tumbuh hingga 11 GW pada 2030 (baca di sini). Namun teknologi satelit yang lebih pintar bisa lebih cepat terasa manfaatnya, misalnya untuk memproses citra pemantauan bencana, kebakaran hutan, atau pertanian langsung di orbit sebelum dikirim ke Bumi.
Catatan redaksi: artikel ini berdasarkan laporan JawaPos yang mengutip The News. Kami belum menemukan pengumuman resmi Google tentang uji Gemma 4 ini untuk diverifikasi langsung.
